Belajar Menulis

Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam

with 2 comments

Dr. Yusuf Qardhawy

Buku ini secara umum menjadi syarah atas salah satu Arkanul-Bai’ah dalam Risalah Ta’alim yang  disampaikan Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, yaitu al-Fahm (paham). Dalam rukun ini, Imam menjelaskan 20 poin utama (ushul isyrin) yang harus dipahami oleh setiap muslim, terlebih lagi al-akh. Dr. Yusuf Qardhawy kemudian mensyarah poin pertama terkait dengan syumuliatul Islam dengan penguatan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, kemudian pendapat para salaf. Selain itu, beliau juga merelevansikan konsistensinya dengan pemikiran Imam yang disampaikan dalam risalah atau kesempatan lain.

 

Dalam mukaddimah, Dr. Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa “Dua Puluh Prinsip” yang disampaikan Imam merupakan “konsklusi yang padat”. Doktor menuliskan, “Prinsip itu merupakan khulashah (ringkasan) terpenting dari hasil bacaan yang begitu panjang, dan kajian yang mendalam tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta Ushul Fiqh dan Ushuluddin, Fiqih, dan Tasauf, disertai dengan pencernaan rasio yang benar-benar paham, dan mampu menta’shil (mengembalikan kepada asal) dan mentarjih (mencari pendapat yang terkuat).

 

Dalam pembahasan lebih lanjut, Doktor menganalisa mengapa Imam mendahulukan al-Fahm dalam rukun bai’ahnya. Dengan menempatkan al-Fahm sebagai poin pertama, Doktor menyebutkan bahwa Imam adalah orang sangat mengerti mengenai fiqh prioritas (fiqhul aulawiyat). Hal itu telah sesuai dengan kaidah al-ilmu qabla al-amal, bahwa ilmu (kepahaman) harus mendahului amal. Fikrah harus mendahulukan harakah. Inilah yang sesuai dengan yang dinyatakan oleh para ulama salafush-shaleh dan begitulah manhaj Islam dalam memprioritaskan ilmu daripada amal yang serampangan. Setidaknya ada 3 alasan yang menyebabkan manusia butuh kepada ilmu:

  1. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil melalui sebuah prinsip dan patokan untuk meluruskan pemahaman dan penggunaan dalil.
  2. Ilmu merupakan satu-satunya saran untuk membedakan antara yang disyariatkan dan yang tidak disyariatkan.
  3. Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk memberikan tingkatan-tingkatan amal dan kewajiban syariat secara benar.

 

Lalu mengapa Imam menggunakan kata al-Fahm dan tidak menggunakan kata al-Ilm? Doktor menjelaskan bahwa paham itu lebih substantif daripada ilmu. Kepahaman adalah tujuan dari sekedar mendapatkan ilmu. Ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tapi mendalamnya dirayah (pemahaman). Pemahaman yang benar adalah nikmat yang terbesar, sebagaimana yang disebutkan Doktor dengan menyebutkan pendapat para ‘ulama terdahulu.

 

Dijelaskan pula dalam pembahasan mengapa kita perlu menguraikan prinsip ini dan untuk siapa

prinsip ini disampaikan. Prinsip ini juga mempunyai setidaknya 4 keistimewaan:

  1. Pada umumnya mengarah pada masalah yang mempunyai banyak perbedaan pendapat di antara berbagai aliran dan mazhab, lama maupun baru.
  2. Disusun dengan bijaksana dan moderat.
  3. Beorientasi kepada penekanan dan singkat.
  4. Tidak banyak diarahkan kepada orang-orang sekuler dan barat.

Prinsip ini juga dianggap memiliki visi penghimpunan dan pemaduan.

 

Dalam syarah ushul awwal ini, Doktor menekankan aspek-aspek totalitas Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam bahwa Islam adalah sistem yang universal. Mencakup berbagai aspek hidup dan kehidupan. Islam adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, akhlak dan kekuatan, serta kasih sayang dan keadilan. Islam adalah kebudayaan dan perundang-undangan, ilmu dan hukum, materi dan harta-benda, serta usaha dan kekayaan. Islam adalah jihad dan dakwah, militer dan ideologi, serta akidah yang murni dan sekaligus ibadah yang benar”.

 

Dari prinsip itu dapat diambil aspek-aspek fundamental ajaran Islam yang menyeluruh, terdiri dari:

  1. Aspek politik
  2. Aspek akhlak
  3. Aspek kebudayaan
  4. Aspek hukum dan perundangan
  5. aspek ekonomi
  6. aspek jihad
  7. aspek dakwah

8&9. akidah yang murni sekaligus ibadah yang benar

 

Jadi, dapat dipahami mengapa Imam mengangkat masalah ini sebagai awalan, karena memang ajaran Islam yang sempurna sering disempitkan hanya pada satu kutub sementara kutub lain ditinggalkan, padahal ajaran Islam pun secara tegas menolak parsialisasi sebagaimana yang disebutkan Doktor dengan berbagai dalilnya. Selain itu, kehidupan ini juga merupakan sebuah sistem yang tidak mungkin harmonis tanpa adanya totalitas dan keparipurnaan aspek-aspek yang

dijelaskan Imam.

 

Dalam pembahasan, Doktor lebih menekankan pada aspek pemerintahan (politik, negara, nasionalisme, dan umat). Hal ini yang sering diparsialkan dalam pandangan gerakan Islam dari ajaran Islam itu sendiri, sejak zaman di mana Imam hidup, bahkan sampai sekarang. Doktor mensyarah pandangan Imam yang hendak mengembalikan kesempurnaan ajaran Islam dalam mengelola pemerintahan. Di antaranya dengan membersihkan politik dari sekulerisme, membangun negara dengan pondasi syariat, memurnikan makna nasionalisme yang sempit, dan mengembalikan karakteristik umat dalam Islam.

 

Dibahas juga mengenai aspek jihad, di mana saat itu, di masa Imam, penjajahan sedang menghantui negara-negara muslim di dunia. Ikhwanul Muslimin dengan arahan Imam berhasil menggelorakan semangat jihad. Beliau menyerukan perlawanan dengan berbagai tahapannya kepada penjajah Inggris. Bahkan, beliau mengirimkan laskar Ikhwan untuk membantu perjuangan kaum muslimin Palestina yang dirongrong oleh zionis israel, di mana gerakan Islam lain banyak yang tidak memperhatikan masalah ini.

 

Buku ini ditutup dengan catatan Doktor terhadap fikrah totalitas Islam ini. Pertama, perlu diperhatikan masalah totalitas dan unsur-unsur sektoral. Bahwa sebagai ajaran yang totalitas, Islam tidak mengandung semua aspek detail. Yang diatur sampai masalah detail biasanya yang berkaitan dengan hal-hal baku dan tidak terjadi perubahan di manapun tempat dan waktunya. Sedangkan yang tidak diatur secara eksplisit, bisa terjadi dua kemungkinan: pertama, diserahkan kepada ijtihad orang-orang yang ahli; Kedua, hanya dijelaskan dalil secara umum dan global saja. Catatan kedua, walaupun aspek yang diajarkan menyeluruh, tetapi ada tingkatan-tingkatan amal yang harus diprioritaskan oleh seorang muslim. Inilah yang dikenal dengan fiqhul aulawiyat (fiqh prioritas), guna menertibkan amal mana yang harus didahulukan, disegerakan, atau bisa ditunda kemudian berdasarkan kepentingan syari’atnya, waktunya, urgensinya, dsb.

 

 

Advertisements

Written by fadhleewrite

July 18, 2008 at 1:01 am

Posted in Books Review

Manajemen Syura (Rapat) Efektif dan Produktif

leave a comment »

Urgensi[1]

“Dan orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-syura: 36)

 

“Tidak kecewa orang yang istikharah (minta pilihan kepada Allah), tidak menyesal orang yang bermusyawarah, dan tidak melarat orang yang hemat.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath)

 

Abu Hurairah mengatakan, sebagaimana dicatat oleh Al-Bukhari, “Aku tidak melihat orang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya selain Rasulullah saw.”

 

Rasulullah saw. adalah orang yang bersemangat untuk melaksanakan syura itu. Beliau banyak meminta pendapat (istisyarah) kepada para sahabatnya, baik dalam urusan besar maupun urusan kecil. Baik dalam masa-masa damai maupun saat peperangan. Beliau bertanya kepada laki-laki juga perempuan. Beliau mendengar pendapat mereka baik secara pribadi-pribadi maupun kolektif.

 

Mari sama-sama kita menyimak berbagai dalil di atas. Masih banyak sebenarnya dalil lain yang menunjukkan urgensi syura dalam mengambil kebijakan yang akan dieksekusi. Bayangkan, al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi bahkan memuatnya bergandengan dengan kewajiban mahdhah lain, seperti shalat dan infaq. Pun dalam sirah, banyak hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. sering melaksanakan syura.

 

Ada hikmah yang bisa kita ambil dari sikap Rasulullah yang memperbanyak syura, mengajak kita untuk memahami urgensinya. Coba kita pikirkan, apa susahnya Rasulullah Saw. untuk memutuskan keputusannya sendiri? Toh, back up beliau adalah malaikat, dan wahyu beliau berasal langsung dari Allah Swt. Lalu mengapa beliau masih mau menyempatkan waktunya untuk bermusyawarah, bersabar mengumpulkan pendapat-pendapat para sahabat?

 

Ini mengajarkan kepada kita hikmah sebuah amal jama’i (kerjasama) yang dimulai dari perencanaan amalnya. Dengan dibukanya kesempatan untuk menyampaikan pendapat, akan timbul ikatan tanggung jawab dari para pemutus kebijakan untuk sama-sama menanggung amal yang akan dilaksanakan, walaupun kadang tidak berbuah kebaikan yang diharapkan. Rasulullah saw. juga menerima usulan para sahabatnya dalam perang Uhud. Meskipun kaum Muslimin mengalami kerugian dalam perang itu, namun al-Qur’an tetap menekankan pentingnya musyawarah itu. Setelah usai perang Uhud, turunlah ayat Quran, “Maafkanlah mereka, mintakanlah ampunan bagi mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Jika kaum Muslimin mengalami kerugian dalam sebuah pertempuran sementara syura telah menjadi prinsip di tengah masyarakat mereka, maka hal itu seribu kali lebih baik ketimbang mereka menyerahkan urusan mereka kepada penguasa zalim yang otoriter dan memperbudak.

 

Hikmah lainnya, bahwa syura ternyata mendapat tempat yang agung dan merupakan kebanggaan umat Islam. Khalifah Umar Bin Khattab mengatakan, “Tiada kebaikan pada suatu urusan yang dilaksanakan tanpa musyawarah.” (An-Nizham As-Siyasi Fil-Islam, Muhammad Abdul-Qadir Abu Faris). Saat terjadi pertempuran dengan Persia, Panglima Tentara Persia meminta bertemu dengan Panglima Perang Kaum Muslimin untuk melakukan perundingan. Setelah Panglima Tentara Persia itu menyampaikan keinginannya, Panglima Perang Muslimin menjawab, “Beri saya waktu untuk bermusyawarah dengan orang-orang.” Panglima Persia itu mengatakan, “Kami tidak mengangkat orang yang selalu mengajak bermusyawarah sebagai pemimpin.” Panglima Muslim itu menjawab, “Karena itulah kami selalu mengalahkan kalian. Kami justru tidak pernah mengangkat pemimpin dari orang yang tidak mau bermusyawarah.”

 

Refleksi Bagi Syura Kita

Jika Rasulullah Saw. yang ma’shum,  dan para sahabat Ra. yang lebih mendekati kebenaran saja serius dalam menyikapi dan melaksanakan syura, lalu siapa kita? Ahli fiqh bukan, majelis tarjih bukan, ulama apalagi… Pertanyaan ini bukan untuk menyatakan bahwa kita tidak boleh melaksanakan syura karena tidak sekapasitas dengan yang biasa disebut dengan ahlul halli wal aqdi itu.

 

Justeru, karena kita belum mempunyai kapasitas yang cukuplah, seharusnya semakin serius dalam syura, mulai dari persiapannya sampai pada tahap pelaksanaan. Jangan karena kita sudah terlalu sering syura (sepekan bisa dua sampai tiga kali), kemudian filosofi syura itu menguap dan kehilangan esensinya.

 

Wajar saja jika ada saudara kita yang menjuluki aktivis dengan istilah syumul (syura melulu) karena mungkin yang lebih kelihatan adalah syuranya, tanpa menghasilkan natijah (buah) dan taghyir (perubahan) yang nyata. Tidak terlihatnya output itu sebenarnya disebabkan karena tidak terlaksananya hasil keputusan syura.

 

Tidak terlaksananya hasil keputusan syura itu karena bermasalah dengan mekanisme syuranya. Bisa jadi informasi tidak tersebar merata di antara peserta syura, bisa jadi karena memang enggan dan merasa  tidak bertanggung jawab terhadap keputusan syura, atau memang tidak ada bukti yang mengikat mengenai keputusan syura. Belum lagi gangguan-gangguan seperti bercanda dan membuat forum yang bukan pada tempatnya, keterlambatan dan ketidakhadiran tanpa izin, atau semuanya serius tetapi tidak ada kontribusi pemikiran yang dihasilkan.

 

Mekanisme syura itu bisa jadi bermasalah karena memang persiapan syuranya minimalis. Jarkom yang mendadak tanpa pencantuman agenda misalnya, atau jarkom lancar tetapi para peserta memang tidak mempersiapkan agenda yang akan dibahas. Jadi semuanya serba on the spot  dan spontan sehingga berbuah pada pelaksanaan yang  kurang optimal.

 

Oleh karena itulah kita perlu kembali merekonstruksi kembali esensi syura. Untuk itu pula diperlukan manajemen syura sehingga menjadi syura yang efektif saat pelaksanaannya dan produktif dalam pengamalan keputusannya.

 

Definisi Syura

Syura atau musyawarah merupakan derivasi (kata turunan) dari kata kerja ‘syawara’. Dan kata ‘syawara’ mempunyai beberapa makna, antara lain memeras madu dari sarang lebah; memelihara tubuh binatang ternak saat membelinya; menampilkan diri dalam perang. Dan makna yang dominan adalah meminta pendapat dan mencari kebenaran.

Secara terminologis, syura bermakna “memunculkan pendapat-pendapat dari orang-orang yang berkompeten untuk sampai pada kesimpulan yang paling tepat.” (Nizhamul-Hukmi Fil-Islam, Dr. ‘Arif Khalil, hal. 236)

Ada pun dalam Sunnah kita mendapati Rasulullah saw. sebegitu jauh menggunakan syura ini. Beliau banyak sekali meminta pandangan para sahabat dan keluarganya, laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak, orang-orang secara umum dengan aneka cara dan berbagai bentuk. Artinya beliau mengajari manusia secara umum untuk berpartisipasi, berpikir, dan turut bertanggungjawab.

 

Manfaat Syura[2] (فَوَاإِدُالشُّوْرَى):

Diceritakan dari Ali ra menyatakan ada 7 keutamaan syura’:

1. Lebih mendekati kebenaran (إِسْتِنْبَاطُ الصَّوَابِ)

2. Menggali ide-ide cemerlang (وَاكْتِسَابُ الرَّأْيِ)

3. Terhindar dari kesalahan (وَالتَّحَسُّنُ مِنَ السَّقْطَةِ)

4. Terjaga dari celaan (وَ حِرْزٌ مِنَ اْلمُلاَم )

5. Selamat dari penyesalan (وَ نَجَاةُ مِنَ النَّدَامَةِ)

6. Persatuan diantara hati (وَ أُلْفَةُ اْلقُلُوْبِ)

7. Mengikuti atsar salafus-shalih (وَالتِّبَاعُ اْلأَثَر )

 

Persiapan Syura

Hendaknya setiap peserta syura mempersiapkan kontribusi pemikiran berdasarkan agenda yang akan dibahas, mulai dari yang sifatnya filosofis seperti mengetahui dalil-dalil syar’i, pertimbangan manfaat dan madharat, sampai pada pilihan-pilihan strategi teknisnya. Ini bisa dilaksanakan dengan mencari informasi dan wawasan mengenai agenda yang akan dibahas di buku-buku, bertanya pada yang sudah berpengalaman, ditambah menganalisisnya sendiri. Syura yang telah disepakati akan dilaksanakan sebaiknya diagendakan benar-benar sehingga kita tidak lupa waktu dan tempatnya.

 

Untuk hal itu, maka yang menginisiasi syura harus mensosialisasikan agenda, waktu dan tempat beberapa hari sebelum pelaksanaannya. Rentang waktu antara sosialisasi (jarkom) dan pelaksanaan semestinya tidak mendadak sehingga dapat memberikan kesempatan kepada peserta yang diundang untuk mempersiapkan agenda dengan baik.

 

Selain persiapan pemikiran, maka diperhatikan pula persiapan ruhiyah. Karena syura merupakan ajang pengambilan kebijakan, sudah barang tentu kita mengharapkan yang  paling mendekati pada kebaikan dan kebenarannya. Itu hanya bisa didapatkan bila hidayah Allah dan keberkahan dari-Nya sudah diturunkan pada kebijakan yang kita ambil. Oleh karenanya, muraqabatuLlah menjadi penting untuk menjemput keberkahan hasil syura. Bila dalam agenda syura kita harus menentukan pilihan misalnya, maka kita bisa melaksanakan shalat istikharah sebelumnya. Banyak lagi bentuk-bentuk muraqabatuLlah yang bisa dilaksanakan.

 

Jangan lupakan juga masalah teknis seperti baramij (tata urutan) saat pelaksanaan syura nanti, kemudian sarana-sarana seperti kenyamanan tempat, ketersediaan peralatan (spidol, penghapus, papan tulis, notulensi, alat tulis, dll). Sarana yang lengkap dan nyaman akan diharapkan akan lebih memperlancar syura karena tidak terganggu dan terpotong-potong dengan masalah-masalah teknis.

 

Pelaksanaan Syura

Etika Umum dalam Pelaksanaan Syura’ (مِنْ آدَابِ الشُّوْرَى)[3]:

1. Syura’ harus dibarengi keikhlasan, kasih-sayang, kelembutan, sikap mudah memaafkan.[4]

 

Penjelasan ali-Imran 159[5]:

Dalam ayat 159 surah Ali ‘Imran: “fa bimaa rahmatin minallaahi linta lahum” (maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka) menunjukkan adanya perintah eksplisit wajibnya bersikap lemah lembut dan menyebarkan kedamaian dalam hati orang-orang yang bermusyawarah (para pembuat keputusan); dan mencerabut rasa takut dari hati mereka serta membuka ruang bagi mereka untuk mendiskusikan persoalan. Walaupun pada dasarnya mereka harus taat baik dalam hal yang ia suka atau pun dalam hal yang ia tidak suka.

 

Walau kunta fazhzhan ghalizhal-qalbi lanfadhdhu min haulik” (sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu), seandainya para peserta musyawarah merasakan ketakutan di tengah majelis pemimpinnya tentu mereka akan memilih patuh dalam rangka menyelamatkan diri dan akan menerima segala apa yang dikatakannya. Mereka tidak akan berani mengemukakan gagasan dan pemikiran mereka. Mereka juga tidak akan susah payah membela hujah-hujah mereka. Jadi, suasana yang harus dimunculkan, seperti yang diungkapkan Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya, Tafsir Al-Quranil-‘Azhim, adalah suasana penuh keakraban dan kebersihan hati agar mereka lebih bersemangat melaksanakan musyawarah itu.

 

Fa’fu ‘anhum wastaghfir lahum wa syaawirhum fil-amr” (maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu). Jika suasana kedamaian telah muncul di kalangan para peserta musyawarah, maka adalah kewajiban mereka untuk bekerja keras dalam mengemukakan pandangan guna mencari solusi dan alternatif, menyampaikan alasan, pilihan dan skala prioritas.

 

Penyebutan perintah musyawarah setelah perintah memaafkan dan memohonkan ampunan tidak harus dipahami sebagai urutan. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Dan pemaafan serta permohonan ampunan terus berlangsung hingga usai majelis musyawarah. Tujuannya adalah untuk memaafkan dan memintakan ampunan kepada Allah atas segala kesalahan yang dilakukan para peserta musyawarah seperti omongan yang sia-sia, kekasaran dalam berbicara tanpa sengaja, dan sebagainya.

 

2. Rendah hati & tidak mengkritik pendapat qiyadah sebelum meminta penjelasan rinci.[6]

3. Tidak menyalahkan pendapat orang lain (karena semua pendapat merupakan ijtihad), melainkan cukup mengemukakan pendapatnya disertai hujjah ataupun pengalaman.[7]

4. Mengikuti & mentaati hasil syura’ yang telah memenuhi syarat sebuah syura’.[8]


[1] Disarikan dari Iman Santoso, Lc., “Syura,” (www.dakwatuna.com)

[2] Al-’Aqdul Farid, 43 dalam An-Nizham As-Siyasi, Abi Faris dari al-ikhwan.net

[3] Abi AbduLlah, “Kewajiban Melaksanakan dan Menaati Syura (Wujub Asy-Syura’)”, (www.al-ikhwan.net)

[4] ali-Imran [3]: 159

[5] Iman Santoso, Lc., “Syura,” (www.dakwatuna.com)

[6] QS Al-Hujurat, 1; lihat pula pelaksanaan hal ini dalam cara Al-Khabbab Ibnul Mundzir ra saat perang Badr berkaitan tempat yang dipilih oleh Nabi SAW; dari al-ikhwan.net

[7] Lihat pula kisah Salman Al-Farisi ra saat mengemukakan pendapatnya ketika perang Khandaq, Al-Fath V/392; dari al-ikhwan.net

[8] QS Ali-Imran, 3/159

Written by fadhleewrite

July 18, 2008 at 12:48 am

Posted in Da'awi

Pemain Bola pun Simpati pada Gaza

leave a comment »

Berita ini diambil dari eramuslim.com, 30 Januari 2008. Tentang pemain bola yang simpati pada pemboikotan saudara-saudaranya di Gaza. Setelah mencetak gol, ia membuka kostum luarnya dan menunjukkan kaos bertuliskan “Sympathize with Gaza.” Walaupun dikenai kartu kuning, ia nampaknya rela, segirang dan seekspresif saat membalik kostum luarnya, yang penting keinginan untuk menunjukkan simpatinya pada Gaza berhasil dilaksanakan.

Lalu, bagaimana kita menunjukkan kepedulian kita?? Cerita ini mungkin bisa jadi inspirasi

news18045e7.jpg

eramuslim.com – Muhammad Aboutreika, pemain sepakbola asal Mesir menjadi menjadi pemain sepakbola paling populer sedunia berdasarkan polling yang digelar International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) yang berbasis di Jerman.

Dari 2.727.548 orang peserta polling lewat situs IFFHS, 1.017.786 orang memilih Aboutreika sebagai pemain sepakbola favorit, mengalahkan pemain-pemain sepakbola legendaris seperti Kaka, David Beckham, Ronaldo, Ronaldinho, Thierry Henry dan Francesco Totti.

Kaka, pemain sepakbola asal Brazil yang dinobatkan sebagai “World Player” di tahun 2007, hanya menduduki peringkat ke-7 sedangkan Beckham berada di peringkat ke-14. Aboutreika, yang bermain untuk klub sepakbola Mesir El-Ahly, masuk nominasi pemilihan bersama 50 pemain sepakbola dunia lainnya dari berbagai klub sepakbola terkemuka seperti Barcelona, Liverpool dan AC Milan. Polling dilakukan pada akhir Desember sampai 3 Januari dan hasilnya diumumkan hari Senin (28/1) malam.

Aboutreika dikenal sebagai pemain yang rendah hati dan bersahaja. Hari Sabtu kemarin, ia menunjukkan solidaritasnya pada warga Ghaza yang sedang diblokade rejim Israel.

Saat itu tim Mesir sedang berhadapan dengan tim Sudan dalam kejuaraan Africa Cup of Nations. Ketika berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, Aboutreika tiba-tiba mengangkat bagian depan kaos seragam timnya dan terlihatlan tulisan “Sympathize With Ghaza” di T-Shirt putih yang dikenakannya. Tindakan Aboutreika itu sempat membuat Israel berang.

Pada kejuaraan yang sama tahun 2006, Aboutreika melakukan tindakan serupa setelah berhasil mencetak satu gol. Ia memperlihatkan T-Shirt yang dikenakannya bertuliskan “We Sacrifice Ourselves for You Prophet Muhammad” sebagai reaksi atas munculnya kartun yang melecehkan Nabi Muhammad di Denmark.

Oleh media Barat, Aboutreika dijuluki sebagai “The Smiling Assasin” karena ketangkasannya mencetal gol dan senyumnya yang selalu mengembang.

Selain sebagai pemain sepakbola, Aboutreika adalah salah satu duta PBB untuk Program Pembangunan (UNDP) bersama 40 bintang sepakbola lainnya seperti Ronaldo dan Zinedine Zidane, yang pada tahun 2005 menggelar pertandingan persahabatan “Match Against Poverty” di Jerman. Sekarang, Aboutreika menjadi duta bagi World Food Program untuk memerangi ancaman kelaparan. (ln/iol)

061210goldoalahly.jpg

Written by fadhleewrite

February 27, 2008 at 7:11 am

Posted in Others..

Biarkan Cinta Menyapa

leave a comment »

BismiLlaahirRahmaanirRahiim

3books_a1.gif

Buku ini adalah seri ke-3 dari Diary Kehidupan yang diterbitkan oleh PT. Syaamil Cipta Media. Isinya memang merupakan catatan pengalaman penulisnya, Dadang Kriswanto, yang bertitik tekan pada aktivitas dakwah kampusnya. Buku ini dicetak kali pertama pada 2005, namun yang saya baca ini cetakan kedua, terbit Maret 2007. Saya beli di salah satu mall deket kampus, dengan diskon 40%, jadi nettonya hanya 8000 rupiah saja.

Isi buku ini ditulis saat Dadang masih kuliah di jurusan manajemen Unbraw. Isinya semacam curhat yang disuplementasi dengan hikmah yang didapatkannya dari pengalaman-pengalamannya. Judul “Biarkan Cinta Menyapa” dalam buku ini tidak merujuk pada cinta-cinta yang rada “norak”, semacam virus merah jambu, melainkan merupakan fragmen dalam isi pertama bukunya yang menggambarkan kerelaan seorang guru, teman Dadang, yang mendidik muridnya yang autis dengan cinta sehingga bisa tetap sabar dan istiqamah.

Walaupun ini merupakan judul dari 1 curhatan Dadang, akan tidak sulit bagi kita untuk memaknai semua tulisannya dengan judul ini. Saya rasa, kisah-kisah lain dalam buku ini juga sarat dengan makna cinta. Saya yakin, penulis memiliki memori sendiri tentang berbagai aktifitas yang dicurhatinya, dan aktifitas itu memang aktifitas yang dicintainya. Kita lihat beberapa fragmennya nanti.Saya suka dengan buku ini karena selain pembawaannya yang ringan dan sederhana layaknya diary, namun isinya seakan segelombang dengan saya aja gitu… karena mungkin ditulis oleh orang yang ikut organisasi keislaman, dan yang membacanya pun demikian. Beberapa tulisan isinya kadang sesuai dengan apa yang saya alami, atau bahkan menginspirasi dan menyindir.

Contoh, dalam bagian “Fobia Syura”, saya – dan mungkin teman-teman – pernah merasakan fase yang sama dengan yang dialami penulis. Malas dan jenuh dengan rapat-rapat organisasi yang tidak produktif, minim eksekusi dan implementasi, hanya menjadi ajang syahwat kalam, atau sebaliknya, menjadi panggung kontes diam tanpa satu pun yang bersuara karena tanpa persiapan. Belum lagi masalah teknis lain, seperti ketepatan waktu dan keefektifan penepatan keputusan. Fuuuih… kalau gak banyak sabar dan dilakukan perbaikan di sana-sini, kondisi syura akan semakin memperburuk kenyamanan kerja. Itu yang pernah saya alami dan menyindir…

Yang menginspirasi, banyak…. terutama tulisan-tulisan dalam bagian 1 (Empati) dan 3 (Perjuangan Hidup). Ada yang menceritakan ketegaran akhawat yang selama ini mungkin sering dipandang santai2 aja di organisasi sementara ikhwannya berjibaku dengan berbagai hal, dari menghubungi ustadz sampe masang sound dan hijab. Namun menurut tulisan ini, ada akhawat yang di luar sana rela berjualan jamu, tempe, sayur, bahkan sampai mengelola sawah..

Ada juga tulisan tentang tidur…. Mengenai berapa lama waktu yang dipakai untuk tidur dan bagaimana orang-orang besar mengefektifkan dan mengefisienkan waktu tidurnya. Ini menginspirasi, karena banyak juga aktifis yang hobinya tidur… bahkan diakui secara resmi di forum-forum terbuka.

Yang paling penuh perjuangan adalah kisah dalam “Sang Alam-Alam”, yang menceritakan kisah hidup mantan anak jalanan namun memilih untuk berubah menjadi lebih baik, memilih kuliah dengan menempuh Bali-Malang menggunakan motornya, sebuah hijrah yang nyata, sampai aktif di kegiatan-kegiatan keislaman, 180 derajat berubah dari kebiasaan mabuk-mabukan dan nongkrong, malak dan kebut-kebutan.

Ternyata, banyak hal-hal yang kita alami sudah lebih dahulu dialami oleh pendahulu kita, sehingga kisah-kisah seperti ini seharusnya memacu kita untuk mengambil pengalamannya yang baik, dan memfilter apa yang memang seharusnya tidak usah dilakukan…

WaLlahu A’lam.

Written by fadhleewrite

February 23, 2008 at 12:09 am

Posted in Books Review

Dari Kegalauan Ini…

leave a comment »

(sebuah Risalah Pembangkit Semangat!)

001_b.jpg

Adalah sebuah risalah masa lalu yang penuh kobaran semangat perjuangan, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan…

Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntunan,

untuk masa depan yang penuh cahaya…

Wahai para pemuda,

wahai mereka yang memiliki cita-cita luhur

untuk membangun kehidupan…

Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah…

Wahai semua yang turun ke medan,

demi mempersembahkan jiwa dan raga di jalan Tuhan…

Di sinilah petunjuk itu, di sinilah bimbingan…

Di sinilah hikmah itu, di sinilah kebenaran…

Di sini kalian dapati keharuman pengorbanan dan kenikmatan berjuang…

Bersegerah bergabung dengan parade bisu…

Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi…

Untuk menyatu dengan saudara muslim…

”Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya milik Allah’

***

Suara jeritan ini; yang berkumandang dari relung tragedi kemanusiaan yang getir dan memilukan; yang lahir dari rahim kegelapan zaman ini, di arus kehidupan yang memancar dari teriakan prihatin seluruh alam; yang dibawa oleh gelombang lembut menyelusup ke berbagai penjuru kehidupan; yang dapat mematikan secara mengejutkan segala impian, janji-janji, dan fenomena yang menipu serta penuh kepalsuan;

mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini

dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh…

dari tiupan angin topan yang menderu…

dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa…

dari keangkuhan gunung yang menjulang…

dakwah yang terbatas, namun jangkauannya…

lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…

 

Ia sepi dari perilaku menipu, dan gemerlap yang penuh dusta. Sebaliknya, ia dikemas oleh keagungan hakikat, keindahan wahyu, dan pemeliharaan allah.

 

Ia bersih dari kerakusan nafsu dan kepentingan pribadi. Oleh karenanya, ia mampu melahirkan putra-putri generasi yang percaya padanya dan tulus bekerja untuknya; yang memandu tegaknya bangunan di bawah naungan dakwah yang pertama…

 

Dengarlah suaranya yang bergemuruh, yang disambut oleh seruan para penyeru setelahnya sebagaimana teriakan seruan sebelumnya:

Wahai yang berselimut, bangun dan berilah peringatan. Dan Tuhanmu, maka agungkanlah!”

 

Bersamaan dengan itu berkumandang pula firman-Nya:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (al-Hijr: 94).

 

Dan wahyu senantiasa menyeru seluruh umat manusia dengan seruan,

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (al-A’raf: 58)

 

(dikutip dari Majmu’atur Rasail)

Written by fadhleewrite

February 15, 2008 at 4:15 pm

Posted in Wise Words

Catatan Musyawarah Kerja Nurani 2008 (hari 2… habis)

with 2 comments

imga0083.jpg

BismiLlahirRahmanirRahiim

Di tengah keheningan malam, saat baru saja terlelap sehabis mengikuti rangkaian sosialisasi dan taujih, sayup-sayup terdengar suara hitungan mundur dari Ketua Majelis Pertimbangan… Itu adalah panggilan untuk berkumpul dalam acara selanjutnya, yaitu pelantikan pengurus.

Saat terbangun dan sadar harus berkumpul, ternyata saya sudah ditinggalkan teman-teman lain ke lapangan… Hitungan mundur pun sudah berhenti, menandakan toleransi waktu untuk berkumpul habis alias telat… (waduh, malu juga… qiyadah ditinggal jundinya gara-gara lebih lama tertidur, walaupun bedanya ga banyak…). Tetapi entah kenapa tidak ada iqabnya…

Setelah dimukaddimahi dengan taujih Ketua MP, acara pelantikan pun berlangsung. Semua pengurus yang hadir bergandeng tangan dan menyatakan komitmennya.

Dengan mengharapkan keberkahan dari Allah di awal kepengurusan, acara dilanjutkan dengan QL berjama’ah. Yang menjadi imam saat itu adalah saya. Mencoba mengorek hafalan ayat-ayat mengenai bekal-bekal ruhiyah untuk aktivis, seperti sholat malam, pengingatan kiamat, perencanaan waktu, dan beberapa lagi. Tak lupa doa qunut di saat witir untuk saudara-saudara kita di Palestina…

Itu berlangsung sampai sekejap saja sebelum shubuh… ditandai dengan suara shalawat dari pengeras suara masjid-masjid sekitar. Selepas itu shubuh pun tiba. Kami kembali sholat berjamaah.

Seperti biasa, selepas shalat berjamaah diisi kultum dari angkatan 2007. Kultum ini sedikit “aneh” karena banyak membuat peserta tertawa, dan banyak pula dikomentari oleh ikhwan. Wajar, karena topiknya menyinggung-nyinggung masalah cinta.. dan biasalah… ikhwan jadi rada semangat kalau denger yang begituan. Padahal, yang dibicarakan itu ibrahnya bisa general…

Menunggu hingga pukul 06.00 untuk berolahraga, peserta ikhwan banyak yang kembali memanfaatkannya untuk tidur. Sebagian ada yang melaksanakan rapat divisi.

Tiba waktunya olahraga, yang ikhwan bermain sepakbola dan akhwat melakukan permainan-permainan. Permainan bola ikhwan cukup seru, penuh dengan ‘intrik’, namun tetap membuat kami tertawa karena tingkahan gaya-gaya pemainnya, apalagi ada Maman yang merekam di handycam, langsung pada tampil di depan kamera.

Saat permainan sudah akan diakhiri, masuk telepon dari Ketua Salam UI, menginfokan akan adanya Aksi Munashoroh Palestina. Langsung saja setelah itu saya buat slide di laptop teman untuk memberi pencerdasan kepada peserta yang hadir supaya ikut (walaupun aksinya tidak jadi karena pas hari-H hujan).

Setelah berolahraga dan sarapan, acara pun ditutup. Dimulai dengan evaluasi acara dari para peserta dengan menuliskan kesannya mengenai hal-hal berikut: 1) kenyamanan, 2) persaudaraan, 3) ilmu yang didapat. 4) kedisiplinan dan konsistensi acara, 5) kesan dan pesan umum.

Kemudian dilanjutkan dengan info-info terkait… ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada semua pihak… penekanan bahwa di akhir Muker ini kita baru saja akan memulai perjalanan…

Mars BSO Nurani pun dinyanyikan… lagi-lagi sambil bergandeng tangan

Acara diakhiri dengan doa dari Ketua MP…

Demikianlah akhir dari review alur Musyawarah Kerja Nurani 2008….

Allahumanshurna…!


Written by fadhleewrite

February 10, 2008 at 9:25 pm

Posted in Nurani 08

Catatan Musyawarah Kerja Nurani 2008 (hari 1)

with 2 comments

BismiLlahirRahmanirRahiim

img_1834.jpg

Akhirnya, tiba juga waktu untuk mensosialisasikan proker setahun ke depan, yang sebelumnya telah disepakati bersama di Musyawarah Perencanaan Kerja. Jadi, di Musyawarah Kerja ini, tidak ada penambahan atau penghapusan proker yang signifikan (kalau dikatakan sama sekali tidak ada). Diskusi antar peserta hanya bersifat memberi saran, masukan, terhadap pengemasan proker-proker yang telah disepakati.

Konsep umum Musyawarah Kerja ini terdiri dari beberapa muatan pokok. Selain sosialisasi proker, ada pula sesi internalisasi visi dalam bentuk taujih dari ustadz. Selain itu, di-create pula prosesi pelantikan pengurus baru oleh Majelis Pertimbangan Nurani, yang dilanjutkan dengan team building.

Hari I

Kesepakatan berkumpul di Musholla al-‘Afiyat FKM adalah jam 08.00. Waktu menunggu teman-teman berkumpul hingga siap berangkat semestinya 1 jam, atau sampai jam 09.00, dan setelah itu berangkat. Namun (lagi-lagi), kita sering belum siap untuk menjalani kesepakatan. Ada yang masih sholat sunnah-lah, ada yang masih ditunggu-lah, dan sebagainya. Tapi kalau mau ditinggal, kita juga belum tega, karena khawatir teman-teman belum tahu tempat tujuannya. Jadilah, keberangkatan diundur sampai sekitar jam 09.30. Hikmahnya… (lagi-lagi) punctuality.

Sebenarnya, ada saran juga yang baik untuk dilaksanakan dalam menunggu waktu keberangkatan itu, yaitu pembagian tilawah al-Qur’an kepada peserta yang hadir sehingga kami bisa mengkhatamkannya. Tapi itu tidak terwujud karena khawatir memberatkan peserta yang rata-rata kalau dibagi masing-masing akan mendapatkan 1 juz.

Ada dua mekanisme keberangkatan. Satu, katakan saja tim bersepeda-motor (advanced) yang terdiri dari 6 orang ikhwan dengan 3 motor. Yang lain, katakan tim reguler (umum, karena naik angkutan umum) terdiri dari (dua atau tiga) puluhan orang termasuk 3 ikhwan.

Berdasarkan pengalaman dan perhitungan, yang akan tiba duluan adalah tim bersepeda-motor, karena selain lebih fleksibel kendaraannya, jalan pun bisa dipintas. Nah… saat mereka sudah sampai, kami, ikhwan yang naik angkutan umum, tentu masih dalam perjalanan. Kantuk pun membuat kami tertidur beberapa saat. Hingga, ikhwan yang sudah sampai menghubungi kami lewat telepon seluler.

Setelah diangkat,tidak terdengar suara apapun dari seberang… beberapa kali begitu, hingga saya minta saja untuk meng-sms. Namun tidak juga di-sms. Akhirnya masuk 2 sms dari pengurus lain, mengkonfirmasi apakah tempat yang akan dipakai sudah benar-benar disepakati dengan pengelolanya??? Degg… saya juga bingung koq belum dibuka?? Dua hari sebelumnya padahal tempat sudah booked, saya pegang kuitansinya…

Ponsel pun berdering dan kali ini suara dari seberang terdengar jelas… Benar saja, mereka yang sudah tiba duluan kebingungan. Saya pun meminta mereka untuk menghubungi pengelolanya. Dari cerita yang kami dengar setelah bertemu mereka, diketahui bahwa pintu itu dibuka tanpa harus ke rumah pengelolanya, karena penjaga bangunan akhirnya datang. Alhamdulilllah…

Hikmah dari peristiwa ini: konfirmasi menjelang penggunaan walaupun sudah deal beberapa hari sebelumnya. Salah seorang Ustadz mengatakan bahwa hal seperti ini menunjukkan talenta dan profesionalisme… Jangan membiarkan kesepakatan terkatung hanya karena kita malas mengkonfirmasi dan meng-clear-kan urusannya. Kesalahan ada di saya yang tidak meminta panitia untuk mengcontact pengelolanya sebelum berangkat… Afwan minkum

Setelah tiba dan beristirahat sebentar, kebetulan penjaga bangunannya menjual es buah, dan beberapa peserta pun menjajalnya… Teman-teman pun bersiap. Memancangkan hijab, menyalakan LCD, mengoneksikannya dengan laptop, menutup kaca-kaca ruangan dengan koran untuk menghalangi cahaya yang akan merusak penampilan LCD. Saya menyempatkan diri beristirahat, berbaring di lantai 2, ruangan khusus ikhwan.

Setelah azan zhuhur berkumandang, kami pun melaksanakan sholat berjamaah yang dilanjutkan dengan kultum dari salah seorang peserta angkatan 2007. Jam13, sosialisasi dimulai…

Sosialisasi diawali dengan presentasi masing-masing bidang. Setelahnya, audiens berhak mengajukan saran, meminta kejelasan, memberi saran, bahkan mengkritik. Ini berlangsung sampai menjelang maghrib… tentunya dipotong break shalat asar dan kultum.

Menjelang maghrib, saya tidak mengikutinya lagi karena mesti menjemput ustadz di Kukusan. Namun demikian, nampaknya waktu sosialisasi berakhir dengan tepat waktu, tidak melebihi waktu isya.

Untuk menjemput ustadz, kali ini saya ajak seorang peserta angkatan 2007 untuk menemani dengan boncengan di motornya. Kekhawatiran timbul lagi karena gerimis mengundang… Mencoba tenang, kami pun menyusun skenario antisipasi sembari tetap menyusuri jalanan ke UI. Pahitnya, kami akan menyewa taksi untuk menjemput Ustadz.

Alhamdulillah… hujan berhenti saat waktu yang disepakati untuk penjemputan tiba. Menunggu sekitar 15 menit di tempat yang telah disepakati, akhirnya kami berjumpa dengan Ustadz, Ustadz Muhammad Ilyas, Lc. (jelasnya baca tulisan yang dipost beberapa hari lagi). Lagi-lagi perasaan saya dibuat tidak enak. Asal teman-teman tahu, kami diminta menjemput di RS Ibu dan Anak di daerah Kukusan. Kami kira, karena memang tempat itu yang enak untuk dijadikan patokan. Eh… tanpa sepengetahuan kami… isteri Ustadz benar-benar sedang ada di RS, baru melahirkan buah hati ke-dua mereka… Jadi, sebelum berangkat, Ustadznya minta izin dulu ke kami untuk menjenguk bayinya yang baru lahir (koq malah ustadz yang izin ke kami?? membuat kami menjadi tidak enak). Kami ketahui pula ternyata Ustadz baru hujan-hujanan dari mengisi kajian di tempat lain.

Berkali-kali kami ucapkan afwan kepada ustadz, dan beliau selalu menjawab “ya… gak apa-apa akhi…” Kami semakin tidak enak karena perjalanan juga masih jauh. Ustadz yang membawa motor sendiri diboncengi oleh teman saya. Sementara saya menjadi penunjuk arah di depan, membawa motor teman 2007.

Hikmah: ketawadhuan dan keikhlasan… dua kata yang mudah dikatakan namun tidak semudah mengimplementasikannya… para aktivis sepatutnya meneladani ini…

Kami pun tiba kembali di al-Qudwah… dan teman-teman sedang menonton film el-meler. Saya bingung sebenarnya kenapa yang ditonton jadi film ini?? Padahal ada panitia yang meng-sms untuk membawa film tentang perjuangan dan itu sudah saya bawakan. Tapi sudahlah… toh sebentar lagi juga selesai.

Taujih Ustadz tentang menjadi aktivis dan lembaga dakwah yang “bercampur namun tidak terlarut” (dalam bahasa visinya: dekat namun tetap berarti!), masih mampu diikuti oleh peserta. Setidaknya peserta tidak ada yang tidur saat taujih disampaikan. Pembahasan yang cukup menarik dan diselingi jokes terkait kehidupan aktivis kampus membuat suasana lebih segar dalam sayup-sayup malam yang memanggil ke peraduan….

Setelah Ustadz mengakhiri pemaparannya… selesai pula rangkaian hari pertama… Alhamdulillah

Bersambung….

Written by fadhleewrite

February 4, 2008 at 9:23 pm

Posted in Nurani 08